LEADERSHIP CAMP 2018/2019

LEADERSHIP CAMP

Leadership Camp merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh PENABUR untuk membekali peserta didik yang tergabung dalam OSIS mengenai bagaimana seharusnya sikap seorang pemimpin. Kegiatan ini dilaksankankan pada 17-19 Oktober 2018. Saya, Sally, George, Vincent, Debrito dan Artur dipilih sebagai perwakilan OSIS PKJ.
Pemimpin adalah sosok yang selalu diimpikan dan dibanggakan oleh semua orang. Tetapi, seorang pemimpin yang sesungguhnya adalah seorang pemimpin yang dapat melayani sesamanya dan tidak egois. Semua hal tentang pemimpin yang baik dan melayani, sudah kami pelajari dan terapkan dalam Leadership Camp 2018 ini. Dari Leadership Camp tahun ini, kami diharapkan bisa menjadi seorang pemimpin yang bisa menjadi berkat dan bisa melayani sesama. Perjalanan dari Jababeka menuju Bogor bukanlah perjalanan yang dekat, tapi jauhnya jarak tempat tersebut telah terhapus oleh gurau canda tawa kami dalam perjalanan. Dari lagu jadul hingga lagu genre Rap, semua tercampur dalam perjalanan kami menuju lokasi Leaderhip Camp. Sesampainya di Villa Bogor, kami langsung disambut oleh udara yang cukup sejuk, tentunya sangat berbeda dengan udara di Cikarang. Di villa tersebut, kami mendengarkan berbagai sharing dari berbagai narasumber. Tema Leaderhip Camp tahun ini, yaitu “Pemimpin yang Melayani”. Salah satu materi yang disampaikan adalah mengenai Vlog, yang belakangan ini sedang tren di dunia maya. Seluruh kelompok dalam acara tersebut diwajibkan untuk membuat vlog selama acara di Leadership Camp. Setelah memperoleh banyak ilmu, kami pergi menuju Kampung Cidokom, Desa Kopo dengan menaiki angkot. Sebelum menuju homestay, kami diajak untuk melihat sebuah jembatan air yang ternyata merupakan gagasan dan hasil kerja keras dari peserta Leaderhip Camp angkatan sebelumya. Jembatan ini dibangun dari hasil koin yang kami kumpulkan sewaktu kami TK. Jembatan air ini merupakan satu satunya akses air untuk masuk menuju kampung tersebut. Hal ini menyadarkan kami bahwa masih banyak orang di sekitar kita yang masih kesulitan untuk mendapatkan air. Selanjutnya, kami menuju homestay. Setiap kamar terdiri dari 3 orang yang berasal dari sekolah yang berbeda beda. Di hari dan malam pertama, kegiatan kami membuat kerajinan bunga dari bahan buah dan kayu pinus, dipandu oleh pengrajin bunga ahli. Kami dapat memberi warna sendiri dan membwanya pulang sebagai oleh-oleh dari Kampung Cidokom. Malam itu, hujan turun dengan derasnya membasahi seluruh kampung. Karena itu, kami terpaksa menggunakan jas hujan untuk kembali ke homestay. Kehangatan mie dan teh menemaniku dan 2 temanku di malam yang dingin itu. Pemilik rumah yang kami tempati sangatlah ramah dan peduli dengan kami. Keesokan pagi, kami segera menuju ke tempat berkumpul. Kicauan burung dan sapaan ramah dari orang orang disana seakan menyambut hari kami. Hari kedua bisa dibilang sebagai hari terbaikku selama di Cidokom, karena kami akan membeli berbagai peralatan yang diperlukan oleh pemilik rumah yang kita tempati selama di sana. Kegiatan ini tentunya sangat berguna bagi kami karena kami diajarkan untuk berbagi dan peka terhadap keadaan sesama. Kami pun segera pergi dengan menaiki angkot bersama teman-teman dari sekolah lain. Sesampainya di pasar, kami bergegas membeli peralatan-peralatan, seperti sapu, rak piring, penjemur pakaian, dan lain sebagainya. Meskipun bukan merupakan pasar tradisional, tempat tersebut tetap ramai oleh pembeli. Bolak balik sana sini tentunya membuat tenaga kami cukup terkuras. Dari hal ini, kami belajar kalau pemimpin yang melayani membutuhkan kesabaran untuk dapat malayani sesamanya. Kami pun kembali ke homestay dan memberikan apa yang telah kami beli kepada pemilik rumah. Ia sangat berterima kasih dan senang mendapatkan barang-barang tersebut. Kami pun juga ikut merasa senang karena kami dapat berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Setelah bersih diri kami melakukan beberapa aktivitas, salah satunya adalah kerja bakti. Kerja bakti dilakukan untuk memperbaiki salah satu jalan yang sudah cukup jelek disana. Semua murid bekerja sesuai tugasnya masing-masing. Ada yang mengoper-ngoper ember berisi pasir dan semen, mencangkul, dan ada juga yang rela naik turun demi membagi-bagikan makanan dan minuman kepada teman-teman lain yang sedang bekerja (logistik). Uniknya, tanpa diminta para warga terutama para ibu dan anak-anak ikut membantu pekerjaan kami sehingga membuatnya menjadi lebih mudah dilakukan. Hari itu adalah hari pertamaku mencangkul, dan ternyata hal tersebut benar-benar menyenangkan karena aku didampingi oleh “teman seperjuangan cangkul”ku. Kami saling berbagi cerita di sela-sela kegiatan mencangkul. Berikutnya, setelah cukup lelah melakukan kerja bakti, kami diberi waktu istirahat dan bersih-bersih, hingga akhirnya malam tiba. Kami makan malam terlebih dahulu sebelum melanjutkan kegiatan. Rintik rintik hujan dan canda tawa bersama teman-teman baru, menemani kenikmatan makanan sederhana yang dibuat oleh warga disana. Di malam harinya, kami semua dibagi menjadi beberapa kelompok untuk membahas lomba apa yang diberikan kepada anak TK dan SD. Keesokan harinya para murid datang dan kami melihat jelas kebahagian anak-anak tersebut untuk mengikuti lomba. Lomba-lomba pun dimulai. Anak-anak sangat girang dan kami bahagia melihatnya. Usai lomba, kami makan siang bersama. Karena waktu yang sudah melebihi batas, tanpa berlama-lama kami langsung melakukan pembagian hadiah dan segera berkemas lalu pamit kepada pemilik rumah. Kami menuju tempat penjemputan yaitu di Cimory dengan berjalan kaki. Kami melihat pemandangan yang luar biasa selama perjalanan tersebut. Sesampainya di Cimory, kami membeli oleh-oleh susu dan segera pulang ke sekolah masing masing. Di perjalanan, kami masih saja membicarakan tentang Leadership Camp yang baru saja kami lewati. Dan setelah kembali ke sekolah nanti, aku akan membagikan pengalaman yang berharga ini kepada teman dan keluargaku.

By. I Gusti Made Gde Atmaja Susila (Kelas 8A)

PENABUR