LATIHAN GABUNGAN PMR MADYA

LATIHAN GABUNGAN PMR MADYA

Pada 19 dan 20 Oktober 2017, perwakilan dari masing-masing SMPK BPK PENABUR berkumpul untuk mengikuti latihan gabungan madya. Madya sendiri diartikan sebagai anggota pmr di tingkat SMP. Kami melaksanakan kegiatan ini di Curug Nangka, lebih tepatnya di perkemahan Curug Nangka Hill, Bogor.

Hari pertama, kami berangkat dari sekolah kami masing-masing. Saat sampai, kami langsung memasang tenda. Kami yang jumlahnya enam orang ditambah satu guru, memasang dua tenda. Kami saling membantu, sehingga cepat selesai. Setelah itu, kami menunggu apel pembukaan sambil mengobrol dan memakan snack. Menjelang dimulainya apel, beberapa orang ditunjuk untuk menjadi bagian dari apel ini, salah satunya saya. Saya yang bertugas di bagian penyematan tanda acara akan dimulai dan diikuti seluruh peserta. Setelah kami makan siang, kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Kelompok tersebut dibuat agar kami bisa lebih cepat mempelajari materi yang diberikan oleh pihak PMI dengan cara estafet atau berigilir, walaupun karena waktu yang kurang masing-masing dari kami tidak mendapat salah satu pos.

Pos pertama yang saya kunjungi mempelajari tentang ambulans. Pos ini adalah yang paling seru menurut saya. Walaupun akan jarang digunakan saat masih SMP atau SMA, namun lumayan untuk menambah ilmu karena katanya materi ini jarang diajarkan. Pos kedua tentang pertolongan pertama pada luka ringan, seperti luka lecet, baret, dan lain-lain. Di sini kami diajarkan cara mengobatinya dengan baik dan benar. Materi inilah yang akan paling sering digunakan. Pos ketiga, pos tentang cara menangani orang pingsan, mimisan, kejang-kejang dan lain-lain. Kami belajar banyak dari pos ini, karena dapat mengoreksi kesalahan dalam penyelamatan yang selama ini kami lakukan. Pos empat tentang pertolongan menggunakan mitela. Cara menggunakan mitela sedikit berbeda dengan yang diajarkan dengan sekolah kami. Pos lima tentang pertolongan menggunakan bidai. Biasanya bidai digunakan untuk patah tulang. Kami mempelajari untuk patah tulang tungkai atas, tungkai bawah, lengan atas, dan lengan bawah. Sama seperti mitela, teknik yang diajarkan sedikit berbeda juga dengan sepengetahuan kami. Kami biasanya menggunakan dua bidai untuk setiap bagian yang patah, namun yang diajarkan hanya menggunakan satu. Dan pos terakhir yang sebenarnya tidak saya kunjungi, pos enam, yaitu cara memindahkan korban.

Di malam hari, kami mengisi lebmar evaluasi. Sebelumnya, kami diterangkan materi dari pos-pos tadi. Penjelasan yang sangat jelas disertai dengan contoh cara melakukannya dari para peserta kegiatan, sehingga lebih mudah dimengerti. Kami kembali ke tenda masing-masing, renungan malam, lalu tidur. Malam itu, anginnya sangat dingin.

Paginya, kami bangun pukul lima lewat. Saya membangunkan teman-teman saya, lalu keluar. Kami renungan pagi kemudian berkumpul dengan membawa bidai, mitela, tandu, dan peralatan P3K kami. Setelah itu, kami berjalan kaki ke Curug Nangka. Kami sarapan di sana dan melanjutkan kegiatan kami. Kami membagi kelompok lagi untuk simulasi mengevakuasi korban. Kami mengobati korban dan mengangkutnya dengan tandu. Banyak sekali tanjakan bahkan tanah yang licin, namun kami berhasil melewatinya dan sampai di air terjun. Di air terjun, kami langsung masuk dan merasakan dinginnya air setelah berpanas-panasan, sehingga kami tidak rela jika harus berhenti bermain air. Hingga akhirnya waktu habis dan kami diharuskan kembali ke tenda. Kami mandi, lalu melaksanakan apel penutupan. Kami membereskan barang serta tenda kami, makan lalu pulang.

Di sini, saya dan teman-teman saya mendapat banyak sekali pelajaran yang ingin kami bagikan kepada teman-teman PMR di sekolah. Keterampilan yang telah kami pelajari di sini, dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga saya sangat bersyukur dapat mengikuti latihan ini. Semoga ilmu yang kami peroleh, dapat kami gunakan untuk menolong sesama.

Kogure Miki (Kelas 9B)